ERROR
Please complete your data !
 
AYO DATANG KE
FESTIVAL JAJANAN BANGO 2019!
AYO DATANG KE FESTIVAL JAJANAN BANGO 2019!
DAFTAR SEKARANG UNTUK
LANGSUNG MASUK TANPA ANTRI
DAFTAR SEKARANG UNTUK LANGSUNG MASUK TANPA ANTRI
HARI
MENUJU
HARI MENUJU
#KelezatanAsli
#FJB2019
#KelezatanAsli    #FJB2019

PENJAJA KULINER FJB 2019

Penjaja Kuliner memiliki peran penting dalam melestarikan kuliner legendaris Indonesia. Melalui sajian lezat yang mereka hadirkan dengan Kecap Bango, kualitas rasa khas Nusantara bisa terus terjaga sampai sekarang. Di Festival Jajanan Bango tahun ini, Bango mengajak 10 Penjaja Kuliner legendaris yang telah regenerasi untuk selalu menjaga kelezatan asli. Ayo baca tentang Penjaja Kuliner di bawah!

Bubur Ayam Bunut Sukabumi

Bubur Ayam Bunut Sukabumi

Mulai dirintis sejak tahun 1970-an di Sukabumi, Bubur Ayam Bunut adalah kuliner legendaris yang menjadi ikon kuliner bumi Priangan. Perjuangan Bapak Alm H. To’I yang memulai usahanya dengan berjualan di gerobak, kini kian sukses di tangan penerusnya. RS Bunut (kini RSUD Syamsudin SH) menjadi saksi awal mula bisnis Bubur Ayam Bunut berkembang hingga memiliki empat cabang usaha yang tersebar di beberapa titik di Kota Sukabumi.

Pada tahun 1995, Bapak H. Firmansyah putra dari Bapak Alm H. To’i meneruskan usaha kuliner bubur ayam yang dipelopori oleh orang tuanya, dikarenakan sang ayah berpulang saat sedang menjalankan ibadah haji ke tanah suci. Pada tahun 2005, usaha ini diwariskan kepada generasi ke-3 Robby Fahamsyah. Sejak itu hingga sekarang, tangan dingin beliau telah berhasil mewujudkan Bubur Ayam Bunut yang dikenal sekarang.

Meski latar pendidikan yang beliau miliki bertolak belakang dengan pengelolaan sebuah warung makan, akan tetapi lulusan sarjana teknik alumni STT Telkom ini justru merasa tertantang. Bermodal rasa tanggung jawab kepada keluarga tercinta, beliau tidak segan merintis dengan segala pengetahuan yang dimiliki akan industri kuliner. Kesungguhan untuk selalu menjaga eksistensi serta terus memperbaiki kualitas menjadi kunci sukses dalam proses kemajuan Warung Makan Bubur Ayam Bunut.

#KelezatanAsli lintas generasi yang dihadirkan oleh hidangan Bubur Ayam Bunut menjadi bukti keseriusan dalam menjaga keaslian resep leluhur serta kualitas bahan baku pilihan. Rahasianya ada pada proses pemasakan bubur nasi yang dicampurkan kuah kaldu ayam kampung premium. Hasilnya adalah bubur ayam dengan cita rasa khas yang unik dan istimewa.

Saat ini, Bubur Ayam Bunut hanya dapat ditemui di kota kelahirannya. Harapannya agar dapat menjadi pilihan wisata kuliner yang tidak dapat dilewatkan saat berkunjung ke Sukabumi. Namun Kawan Kuliner tak perlu khawatir, karena kalian bisa mencicipi semangkuk bubur ayam istimewa lengkap dengan kecap Bango di Festival Jajanan Bango 2019.

Kupat Tahu Gempol Bandung

Kupat Tahu Gempol Bandung

Bermodalkan resep warisan leluhur yang berasal dari wilayah Mangunreja, Tasikmalaya. Ibu Hj Hajar Hasanah pada tahun 1965 mulai merintis usaha kuliner tradisional Kupat Tahu yang berlokasi di Jalan Gempol, Bandung Selatan. Kemudian pada tahun 1975 usaha Kupat Tahu Gempol diwariskan kepada pasangan Bapak H. Achdan dan Ibu Hj. Yayah, selaku adik iparnya.

Rahasia kelezatan Kupat Tahu Gempol hadir dari perpaduan saus kacang, tauge segar dan renyahnya kerupuk, disantap bersama lembutnya ketupat dan tahu. Racikan asli terus dipertahankan sehingga Kupat Tahu Gempol berhasil memikat penggemar kuliner khas Jawa Barat ini.

Jerih payah Ibu Hj. Yayah serta keluarga dalam usaha peningkatan kualitas dan konsistensi kelezatan rasa hidangan membuahkan hasil. Pada tahun 2015, Kupat Tahu Gempol mendapatkan kehormatan menjadi salah satu undangan pada ajang World Food Congress 2015 di Singapura.

Kini, Nuraini sebagai generasi ke-3 penerus usaha kuliner Kupat Tahu Gempol dipercaya untuk menjaga #KelezatanAsli yang telah diwariskan keluarga. Dengan dedikasi tinggi yang berorientasi kepada kepuasan para pelanggan, membuka peluang bagi Kupat Tahu Gempol untuk bisa terus bertahan di tengah kompetisi industri kuliner yang semakin bersaing.
Kawan Kuliner yang penasaran dengan Kupat Tahu Gempol, silahkan mampir ke Festival Jajanan Bango 2019!

Mie Koclok Mas Edi Cirebon

Mie Koclok Mas Edi Cirebon

Cirebon si Kota Udang adalah istilah yang melekat di benak kebanyakan penduduk Indonesia. Namun bukan hanya rebon yang menjadi incaran pecinta kuliner saat mampir ke kota ini. Ada juga sederet hidangan kuliner khas dengan kelezatan yang istimewa seperti Mie Koclok Mas Edi.

Sebagai sosok perintis, sang Kakek mengawali usaha kuliner jauh di era kemerdekaan. Warung Mie Koclok yang sudah berdiri sejak tahun 1945, masih setia menjadi salah satu ikon kuliner Cirebon. Hidangan mie unik dengan kuah kental, lengkap dengan variasi isian mulai dari telur hingga irisan daging ayam. Ciri khas kuah kental Mie Koclok berasal dari campuran kaldu ayam kampung, santan kelapa murni, serta tepung maizena. Resep ini adalah racikan dari mendiang Kakek dari Mas Edi yang diwariskan kepada keluarga untuk memuaskan lidah para penggemar.

Menjaga kualitas bahan baku dan teknik memasak yang baik adalah kunci kesuksesan kuliner legendaris lintas generasi ini, dan hal tersebut berhasil dilakukan oleh Kedai Mie Koclok Mas Edi hingga sekarang. Mas Edi yang merupakan generasi ke-3 dari bisnis kuliner ini, mampu secara konsisten menjaga keaslian dan #KelezatanAsli hidangan dari resep warisan. Hal tersebut telah menjadi pegangan yang beliau persiapkan bagi generasi penerusnya. Usia yang tak lagi muda, dan faktor kesehatan menjadi alasan beliau yang perlahan mulai menyerahkan usaha ini untuk dikelola sang penerus. Sebelum tutup usia, beliau ingin Mie Koclok tetap lestari dan melegenda.

Di Jalan Lawanggada yang merupakan pusat kuliner kota Cirebon, warung Mie Koclok Mas Edi dapat ditemui. Di tempat itu pula sejarah awal Mie Koclok Mas Edi dimulai. Jika para pecinta kuliner tergoda untuk menikmati kelezatan istimewa hidangan Mie Koclok Mas Edi yang telah melegenda, kalian dapat menemukannya di Festival Jajanan Bango 2019.

Mie Tiaw Antasari 72 Pontianak

Mie Tiaw Antasari 72 Pontianak

Kwetiaw/Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mulai meramaikan dunia kuliner kota pontianak pada tahun 1972. Digagas oleh nyonya Agatha 47 tahun silam Mie Tiaw Antasari, Restoran yang menyediakan hidangan Kwetiaw goreng sebagai menu andalan, dan berlokasi di Jl. Antasari No.72, Kota Pontianak. Tak butuh waktu lama untuk dikenal dan menarik minat khalayak ramai, dengan kelezatan yang dihadirkan pada setiap menu yang disediakan.

Kombinasi beraneka ragam rempah dengan mie tiaw kenyal dan irisan daging sapi yang dimasak dengan teknik yang baik, menjadikan hidangan Mie Tiaw Antasari memiliki kelezatan yang memikat hati banyak pelanggan. Diawali dengan aroma yang menggugah selera, kemudian diikuti oleh tampilan hidangan yang sangat menggoda. Mie Tiaw Sapi Antasari sudah pasti dapat memberi kepuasan rasa yang dicari oleh para pecinta kuliner.

Selain hidangan juara Mie Tiaw Sapi Goreng, Restoran Mie Tiaw Antasari 72 juga menyediakan banyak variasi jenis hidangan seperti, Mie Tiaw Sapi dengan berbagai cara penyajian dari mulai disiram,kuah, hingga yam. Ada juga pilihan menu lain seperti Bihun Goreng/Kuah/Siram/Yam, Mie Goreng atau kuah. Dan beraneka ragam pilihan topping dari mulai irisan daging sapi, bakso sapi, usus, babat, dll.

Semenjak tahun 2016 Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mulai dilanjutkan oleh generasi ketiga nyonya Agatha yaitu anak? anak dari Alm. Bpk Lukman Sucipto. Baginya, “Culinary is Fun! It is my passion and I absolutely love it”. Terbiasa dengan suasana kitchen sejak kecil membuatnya jatuh cinta dengan dunia masak-memasak. Baginya, hingar bingar dapur dan segala kesibukannya adalah hal yang menyenangkan. Namun motivasi utama datang dari keluarga yang tak lain adalah sang ayah. Beliau pernah berpesan untuk memperkenalkan #KelezatanAsli khas Pontinak kepada pecinta kuliner di luar kota. Hal ini diwujudkan oleh nyonya Agatha dengan membuka cabang di Bekasi.

Sampai saat ini kualitas rasa yang tidak berubah dan pilihan bahan baku premium yang menjadi andalan restoran ini, hingga membuat Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mampu bertahan di persaingan bisnis kuliner yang pesat.

Jangan sampai melewati santapan khas Pontianak ini Festival Jajan Bango 2019.

Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon Solo

Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon Solo

Nasi Liwet hidangan istimewa dari Kota Solo, disajikan dengan sayur dan lauk atas daun pisang. Keistimewaannya ada pada rasa nasi yang gurih karena dimasak dengan santan, berpadu dengan sayur labu yang pedas manis. Lauk lengkap mulai dari telur pindang, potongan ayam, jeroan ayam, beraneka gorengan dan baceman dapat dipilih sesuai selera.

Salah satu rekomendasi nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah Jalan Teuku Umar, Keprabon yang buka mulai pukul 16:00 - 2:00 dini hari. Nasi Liwet Wongso Lemu sendiri sudah ada sejak tahun 1954 didirikan oleh Mbah Wongso Sukarto. Awalnya hanya tenda di emperan toko sampai saat ini sudah bisa di kios permanen. Selama lebih dari enam dekade, usaha warung makan ini sudah melampaui tiga generasi. Di kawasan ini bahkan dapat ditemukan lebih dari satu warung Nasi Liwet yang sama.

Di tengah perkembangan kuliner yang beraneka ragam dari dalam dan luar negeri, saat ini generasi ke-4 penerus Nasi liwet wongso lemu Ibu Darsini, ingin terus melestarikan salah satu #KelezatanAsli Kuliner Indonesia asal Solo ini. Persaingan bisnis yang semakin ketat, serta peluang usaha yang masih terbuka lebar menjadi motivasi utama supaya kuliner lokal bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Ada keunikan yang dapat ditemui jika membeli nasi liwet Wongso Lemu, yakni penjual yang masih memakai baju tradisional kebaya dan juga pengamen tradisional yang terdiri dari ibu-ibu dengan make up, sanggul dan juga pakaian kebaya. Sebuah upaya unik untuk melestarikan budaya untuk dinikmati lintas generasi.

Temukan Nasi Liwet Wongso Lemu di Festival Jajanan Bango 2019.

Restoran Mamink Daeng Tata Jakarta

Restoran Mamink Daeng Tata Jakarta

Restoran Mamink Daeng Tata didirikan oleh H. Muhammad Amin Rahim pada tahun 1996, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Restoran yang menyajikan masakan khas Makassar ini mampu dengan cepat dikenal oleh banyak warga Jakarta. Selain karena masakan yang lezat dan otentik, restoran ini juga termasuk salah satu pionir masakan khas Makassar di Ibukota. Tak heran jika penggemarnya sulit berpaling meski kian banyak restoran yang menyajikan menu serupa.

Sajian khas daerah seperti sop konro, coto makassar, hingga es pisang hijau yang segar selalu dinantikan. Tidak cepat puas dengan sambutan yang baik di industri kuliner, sang pemilik tak henti berinovasi. Melalui proses yang panjang, lahirlah Tata Ribs yang kini menjadi primadona. Sebuah sajian unik yang lezat tanpa kehilangan cita rasa tradisional. Tata Ribs atau Konro Bakar adalah olahan iga sapi bakar berukuran jumbo yang pada penyajiannya dilumuri oleh saus kacang serta didampingi oleh kuah kaldu lengkap dengan taburan bawang goreng. Menu hasil dari pemikiran dan bentuk kreativitas yang dilakukan oleh H. Muhammad Amin Rahim juga merupakan bentuk totalitas dan kecintaan terhadap usaha kuliner yang dimilikinya.

Berkembangnya industri kuliner merupakan sebuah tantangan bagi bisnis keluarga ini. Saat ini Restoran Mamink Daeng Tata dikelola generasi penerus H. Muhammad Amin Rahim, yang bernama Putri Daeng Tata Management. Menjawab tuntutan industri yang kian bersaing, manajemen ini memiliki visi untuk membangun restoran yang selalu berinovasi dan berkreasi melalui cita rasa kuliner Nusantara. Menyajikan #KelezatanAsli menjadi tujuan utama agar warisan budaya dapat terus berlangsung lintas generasi. Selain itu juga secara konsisten menjaga kualitas dan pelayanan agar selalu prima.

Potensi yang dimiliki oleh Restoran Mamink Daeng Tata dipandang oleh para penerus layak untuk terus maju dan terus berkembang melalui perubahan konsep manajemen keluarga ke sistem bisnis yang lebih terpadu. Penerapan sistem management mutu, pengelolaan SDM yang lebih advance, serta rebranding image yang lebih relevan dengan perkembangan zaman dan semakin melekatkan Restoran Mamink Daeng Tata ke hati para pelanggannya.

Spesial di Festival Jajanan Bango 2019, Kawan Kuliner bisa mencicipi seporsi jumbo Tata Ribs lengkap dengan kuah kaldunya yang gurih!

Soto Betawi H. Ma’aruf Jakarta

Soto Betawi H. Ma’aruf Jakarta

Bagi Bapak Ma'ruf Said hidup di era kolonial adalah tantangan tersendiri. Sebagai warga Betawi asli, pada zaman itu beliau kerap kali mendapat perlakuan diskriminatif. Tekadnya untuk merubah nasib yang lebih baik sebagai warga asli Batavia pada jaman itu. Bapak H. Ma’ruf memutuskan untuk memulai usaha kuliner soto betawi. Dengan modal resep soto betawi yang diturunkan dari ibunda beliau, bapak H. Ma’ruf mulai melakukan percoban meracik berbagai macam rempah untuk menyempurnakan resep yang dimiliki, hingga akhirnya mampu dipertahankan keasliannya sampai saat ini.

Penggunaan bahan-bahan pilihan tanpa pengawet buatan, menjadikan kualitas rasa yang dimiliki oleh Soto Betawi legendaris ini. Kemampuan untuk menjaga kualitas rasa telah menjadi keunggulan rumah makan ini. Berawal dari gerobak pikul yang dijajakan keliling kota Jakarta hingga akhir tahun 70-an, kegigihan H. Ma’ruf berbuah manis. Perlahan tapi pasti usaha beliau terus berkembang, mulai dari tenda kaki lima, hingga sempat menetap di kawasan Menteng, kini Soto Betawi H. Ma’Ruf bisa ditemui di sekitaran Taman Ismail Marzuki.

Bicara lintas generasi, RM Soto H. Ma’ruf ini sudah dijalani turun temurun hingga saat ini, H Muchlis sudah mempersiapkan puteranya, Mufti Maulana sebagai penerus generasi ke-3. Menurutnya Soto Ma’ruf ini bukan hanya sebuah bisnis saja, melainkan juga menjadi sebagai peninggalan budaya Betawi yang perlu dilestarikan.

Sejarah kesuksesan Soto H Ma'ruf patut menjadi inspirasi bagi mereka yang bergerak di bidang kuliner. Mengulang pesan dari sang ayah, Pak H. Muchlis berkata "Kalau tak bisa berlari maka berjalanlah, kalau tak bisa berjalan maka merangkaklah, kalau anda berhenti, maka anda mati sebelum mati,". Pesan itu menjadi pegangan baginya dalam menjalani usaha warisan ini.

Dalam menjaga kualitas dan #KelezatanAsli, H. Muchlis turun langsung untuk selalu mencicipi masakan agar rasanya pas di lidah pelanggan. Tidak jarang beliau juga menyapa para tamu sekedar menerima masukan dan saran. Sikap ramahnya membekas di hati pelanggan yang tersebar dari berbagai kalangan. Menurutnya, rasa dan pelayanan adalah kunci utama sebuah bisnis kuliner yang sukses.

Rasa Sotonya tak perlu dipertanyakan. Kuahnya terasa gurih di lidah, karena campuran santannya yang pas. Daging dan jeroan yang dipakai sebagai isian soto pun terasa lembut. Membayangkan paduan rasa ketika kuah dan daging disajikan secara bersamaan tentu membuat penasaran. Jangan lupa sate ayam sebagai makanan pelengkap.

Kawan Kuliner dapat mengunjungi Festival Jajanan Bango 2019 untuk mencicipi kuliner lintas generasi ini.

Tahu Telor Cak Kahar Surabaya

Tahu Telor Cak Kahar Surabaya

Bagi masyarakat Jawa Timur terutama Kota Surabaya, tahu telor bukanlah hidangan yang asing. Namun bagi banyak orang sajian sederhana ini bisa jadi istimewa. Aroma dan rasa tahu telor khas Jawa Timur dapat menggugah selera makan siapa saja. Terdiri dari potongan tahu putih yang digoreng dalam balutan telur ayam, kemudian disajikan bersama tauge serta irisan lontong yang disiram saus kacang kental, lengkap dengan taburan bawang goreng dan kerupuk.

Warung Tahu Telor Cak Kahar adalah salah satu rekomendasi yang sulit dilewatkan bagi pecinta kuliner yang ingin merasakan #KelezatanAsli tahu telor. Resepnya telah diwariskan secara turun temurun oleh Alm. Mbah Aminah, sosok yang mengawali usaha kuliner ini pada tahun 1960. Dari racikannya telah lahir tahu telor istimewa yang ada di hati pecinta kuliner tradisional hingga sekarang.

Sebelum sukses seperti saat ini, warung ini sempat dikelola oleh Bpk Abdul Sajad, yang tak lain adalah putra dari Alm. Mbah Aminah. Sejak saat itu sampai tahun 1996, usaha rumah makan keluarga ini tetap konsisten dalam menjaga kualitas rasa. Adapun Cak Kahar yang kemudian dipercaya untuk melanjutkan warung sederhana ini hingga sekarang. Sebagai penerus, Cak Kahar tetap bertekad untuk menjaga eksistensi dan mempertahankan #KelezatanAsli dari sang empunya.

Meski terkenal dengan sajian Tahu Telor, Warung Tahu Telor Cak Kahar juga menyediakan varian pilihan hidangan, diantaranya Tahu Tek Tek dan juga Tahu Campur yang tak kalah lezat. Rasanya tidak salah jika tahun ini Warung Tahu Telor Cak Kahar menjadi salah satu dari 10 Kuliner Lintas Generasi pilihan Festival Jajanan Bango 2019.

Tengkleng Klewer Bu Edi Solo

Tengkleng  Klewer Bu Edi Solo

Kuliner khas Solo yang sangat beragam menjadi tujuan favorit pecinta kuliner. Tidak heran mengapa seringkali disebut surga kuliner di tanah jawa. Salah satu makanan khas yang unik adalah tengkleng. Tengkleng adalah hidangan olahan berbahan dasar kambing dari mulai daging, iga, pipi, mata, kuping, dan jeroan lain. Tidak digunakannya santan pada proses pengolahan tengkleng adalah satu poin pembeda antara tengkleng dan gulai, itulah alasan mengapa tengkleng memiliki kuah yang encer.

Warung Tengkleng Bu Edi adalah salah satu dari sekian banyak tempat makan legendaris di Solo. Lokasi tepatnya ada di antara Masjid Agung dan Pasar Klewer. Warung tengkleng Bu Edi selalu ramai pengunjung sedari buka pada waktu jam makan siang hingga sore hari menjelang tutup.

Usaha tengkleng Klewer ini, awalnya digagas oleh nenek (nama) dari Bu Edi sendiri. Pada tahun 1971. Nenek Bu Edi memulai usaha tengklengnya dengan menggendong sepanci besar berisikan menu tengkleng khas Solo berkeliling Pasar Klewer. Hingga pada tahun 80-an Ibu (nama) beralih sebagai penerus usaha tengkleng yang telah dirintis oleh ibundanya, memutuskan untuk mendirikan tenda sebagai tempat usaha berjualan tengklengnya, yang hingga saat ini masih merupakan lokasi rumah makan ini berdiri. Melestarikan warisan budaya kuliner terutama sajian tradisional khas solo merupakan sebuah kewajiban bagi beliau. Sebagai penerus, hal tersebut menjadi salah satu alasan baginya untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis sejak lama.

#KelezatanAsli tengkleng Bu Edi yang telah memikat banyak hati para pelanggan dari berbagai lapisan masyarakat, dari mulai orang biasa sampai pejabat pemerintahan baik dari daerah solo ataupun pejabat pemerintahan pusat. Kelezatan yang ditawarkan oleh warung tengkleng Bu Edi, tidak terlepas dari pemilihan bahan baku yang dapat menjamin dan menjaga kualitas tengkleng yang resepnya telah diwarisi lintas generasi. Serta teknik memasak tradisional bertabur rempah pilihan yang meresap ke dalam daging dan jeroan, menghasilkan citarasa yang kaya. Keunikan lain yang dimiliki oleh warung tengkleng Bu edi, tidak lain terletak pada cara penyajian yang masih tradisional, yaitu dengan penggunaan pincuk sebagai alas penyajian tengkleng.

Kini untuk menikmati tengkleng Bu Edi tak perlu jauh-jauh ke Pasar Klewer. Kunjungilah Festival Jajanan Bango 2019!

Warung Tongseng Pak Budi

Warung Tongseng Pak Budi

Bagi warga Jakarta, mengobati rasa rindu akan cita rasa sate kambing dan tongseng yang lezat tentu saja bukan hal yang sulit. Cukup datang ke sebuah warung makan sederhana di kawasan Pondok Bambu yang menyajikan masakan khas solo yang otentik. Dimasak secara tradisional, rasa khas nya yang tidak pernah berubah. Resep asli diwariskan turun temurun sejak puluhan tahun tentu bukan racikan sembarangan.

Berawal dari sebuah angkringan kecil dan mimpi besar seorang perantau asal Solo. Pada tahun 1985 Alm H. Senen Riyanto memulai perjuangannya di Jakarta. Bersama istri tercinta, beliau menjajakan tongseng kambing secara keliling di kawasan Menteng tepatnya di Jalan Proklamasi. Tiga tahun berlalu, kelezatan masakan beliau mulai terdengar dari mulut ke mulut. Seiring waktu pelanggan semakin bertambah dan kebutuhan untuk memuaskan hati pecinta tongseng diwujudkan oleh pasangan ini.

Tahun 1988, alm. H. Senen Riyanto dan istri memutuskan untuk menetap dan berjualan dengan tenda kaki lima. Kali ini beliau tak segan mengajak tiga orang pemuda dari kota asalnya untuk turut membantu melayani. Resep rahasia keluarga yang konsisten dan lokasi yang strategis menjadi kunci utama dalam menarik hati warga sekitar. Tidak heran jika angkringan ini memiliki pelanggan yang setia. Mulai dari komunitas elite di Menteng, hingga Keluarga Cendana dan para menteri di kala itu.

Waktu berlalu bersamaan dengan usaha yang semakin menjanjikan. Dengan modal nekat dan dukungan keluarga, di tahun 1992 beliau mengontrak sebuah ruko di Mampang Prapatan selama kurang lebih empat tahun. Tahun 1997 menjadi tahun yang penting, dimana Warung Sate dan Tongseng Pak Budi berdiri. Kali ini modal nyata hasil perjuangannya membuahkan hasil sebuah lokasi permanen di daerah Pondok Bambu yang hingga kini masih berdiri. Motivasi paling ampuh memang berasal dari keluarga tercinta, terbukti dari pemakaian nama “Budi” yang merupakan nama anak sulungnya.

Kisah perjuangan orang tuanya hingga sukses menjadi salah satu alasan dan motivasi bagi Eko Setyabudi untuk melanjutkan usaha rumah makan legendaris ini. Sebagai generasi penerus beliau bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan dan mengembakan usaha ini hingga generasi sesudahnya.

Selanjutnya hanya waktu yang berbicara. Dengan mempertahankan #KelezatanAsli, dan kesederhanaan, terhitung di tahun 2018 Warung Sate dan Tongseng Pak Budi sudah memiliki tiga cabang yang tersebar di Jabodetabek. Kawan Kuliner bisa langsung mencicipi lezatnya tongseng pak Budi di FJB 2019 bulan Maret nanti.

PENJAJA KULINER FJB 2019

Penjaja Kuliner memiliki peran penting dalam melestarikan kuliner legendaris Indonesia. Melalui sajian lezat yang mereka hadirkan dengan Kecap Bango, kualitas rasa khas Nusantara bisa terus terjaga sampai sekarang. Di Festival Jajanan Bango tahun ini, Bango mengajak 10 Penjaja Kuliner legendaris yang telah regenerasi untuk selalu menjaga kelezatan asli. Ayo baca tentang Penjaja Kuliner di bawah!

Bubur Ayam Bunut Sukabumi

Bubur Ayam Bunut Sukabumi

Mulai dirintis sejak tahun 1970-an di Sukabumi, Bubur Ayam Bunut adalah kuliner legendaris yang menjadi ikon kuliner bumi Priangan. Perjuangan Bapak Alm H. To’I yang memulai usahanya dengan berjualan di gerobak, kini kian sukses di tangan penerusnya. RS Bunut (kini RSUD Syamsudin SH) menjadi saksi awal mula bisnis Bubur Ayam Bunut berkembang hingga memiliki empat cabang usaha yang tersebar di beberapa titik di Kota Sukabumi.

Pada tahun 1995, Bapak H. Firmansyah putra dari Bapak Alm H. To’i meneruskan usaha kuliner bubur ayam yang dipelopori oleh orang tuanya, dikarenakan sang ayah berpulang saat sedang menjalankan ibadah haji ke tanah suci. Pada tahun 2005, usaha ini diwariskan kepada generasi ke-3 Robby Fahamsyah. Sejak itu hingga sekarang, tangan dingin beliau telah berhasil mewujudkan Bubur Ayam Bunut yang dikenal sekarang.

Meski latar pendidikan yang beliau miliki bertolak belakang dengan pengelolaan sebuah warung makan, akan tetapi lulusan sarjana teknik alumni STT Telkom ini justru merasa tertantang. Bermodal rasa tanggung jawab kepada keluarga tercinta, beliau tidak segan merintis dengan segala pengetahuan yang dimiliki akan industri kuliner. Kesungguhan untuk selalu menjaga eksistensi serta terus memperbaiki kualitas menjadi kunci sukses dalam proses kemajuan Warung Makan Bubur Ayam Bunut.

#KelezatanAsli lintas generasi yang dihadirkan oleh hidangan Bubur Ayam Bunut menjadi bukti keseriusan dalam menjaga keaslian resep leluhur serta kualitas bahan baku pilihan. Rahasianya ada pada proses pemasakan bubur nasi yang dicampurkan kuah kaldu ayam kampung premium. Hasilnya adalah bubur ayam dengan cita rasa khas yang unik dan istimewa.

Saat ini, Bubur Ayam Bunut hanya dapat ditemui di kota kelahirannya. Harapannya agar dapat menjadi pilihan wisata kuliner yang tidak dapat dilewatkan saat berkunjung ke Sukabumi. Namun Kawan Kuliner tak perlu khawatir, karena kalian bisa mencicipi semangkuk bubur ayam istimewa lengkap dengan kecap Bango di Festival Jajanan Bango 2019.

Kupat Tahu Gempol Bandung

Kupat Tahu Gempol Bandung

Bermodalkan resep warisan leluhur yang berasal dari wilayah Mangunreja, Tasikmalaya. Ibu Hj Hajar Hasanah pada tahun 1965 mulai merintis usaha kuliner tradisional Kupat Tahu yang berlokasi di Jalan Gempol, Bandung Selatan. Kemudian pada tahun 1975 usaha Kupat Tahu Gempol diwariskan kepada pasangan Bapak H. Achdan dan Ibu Hj. Yayah, selaku adik iparnya.

Rahasia kelezatan Kupat Tahu Gempol hadir dari perpaduan saus kacang, tauge segar dan renyahnya kerupuk, disantap bersama lembutnya ketupat dan tahu. Racikan asli terus dipertahankan sehingga Kupat Tahu Gempol berhasil memikat penggemar kuliner khas Jawa Barat ini.

Jerih payah Ibu Hj. Yayah serta keluarga dalam usaha peningkatan kualitas dan konsistensi kelezatan rasa hidangan membuahkan hasil. Pada tahun 2015, Kupat Tahu Gempol mendapatkan kehormatan menjadi salah satu undangan pada ajang World Food Congress 2015 di Singapura.

Kini, Nuraini sebagai generasi ke-3 penerus usaha kuliner Kupat Tahu Gempol dipercaya untuk menjaga #KelezatanAsli yang telah diwariskan keluarga. Dengan dedikasi tinggi yang berorientasi kepada kepuasan para pelanggan, membuka peluang bagi Kupat Tahu Gempol untuk bisa terus bertahan di tengah kompetisi industri kuliner yang semakin bersaing.
Kawan Kuliner yang penasaran dengan Kupat Tahu Gempol, silahkan mampir ke Festival Jajanan Bango 2019!

Mie Koclok Mas Edi Cirebon

Mie Koclok Mas Edi Cirebon

Cirebon si Kota Udang adalah istilah yang melekat di benak kebanyakan penduduk Indonesia. Namun bukan hanya rebon yang menjadi incaran pecinta kuliner saat mampir ke kota ini. Ada juga sederet hidangan kuliner khas dengan kelezatan yang istimewa seperti Mie Koclok Mas Edi.

Sebagai sosok perintis, sang Kakek mengawali usaha kuliner jauh di era kemerdekaan. Warung Mie Koclok yang sudah berdiri sejak tahun 1945, masih setia menjadi salah satu ikon kuliner Cirebon. Hidangan mie unik dengan kuah kental, lengkap dengan variasi isian mulai dari telur hingga irisan daging ayam. Ciri khas kuah kental Mie Koclok berasal dari campuran kaldu ayam kampung, santan kelapa murni, serta tepung maizena. Resep ini adalah racikan dari mendiang Kakek dari Mas Edi yang diwariskan kepada keluarga untuk memuaskan lidah para penggemar.

Menjaga kualitas bahan baku dan teknik memasak yang baik adalah kunci kesuksesan kuliner legendaris lintas generasi ini, dan hal tersebut berhasil dilakukan oleh Kedai Mie Koclok Mas Edi hingga sekarang. Mas Edi yang merupakan generasi ke-3 dari bisnis kuliner ini, mampu secara konsisten menjaga keaslian dan #KelezatanAsli hidangan dari resep warisan. Hal tersebut telah menjadi pegangan yang beliau persiapkan bagi generasi penerusnya. Usia yang tak lagi muda, dan faktor kesehatan menjadi alasan beliau yang perlahan mulai menyerahkan usaha ini untuk dikelola sang penerus. Sebelum tutup usia, beliau ingin Mie Koclok tetap lestari dan melegenda.

Di Jalan Lawanggada yang merupakan pusat kuliner kota Cirebon, warung Mie Koclok Mas Edi dapat ditemui. Di tempat itu pula sejarah awal Mie Koclok Mas Edi dimulai. Jika para pecinta kuliner tergoda untuk menikmati kelezatan istimewa hidangan Mie Koclok Mas Edi yang telah melegenda, kalian dapat menemukannya di Festival Jajanan Bango 2019.

Mie Tiaw Antasari 72 Pontianak

Mie Tiaw Antasari 72 Pontianak

Kwetiaw/Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mulai meramaikan dunia kuliner kota pontianak pada tahun 1972. Digagas oleh nyonya Agatha 47 tahun silam Mie Tiaw Antasari, Restoran yang menyediakan hidangan Kwetiaw goreng sebagai menu andalan, dan berlokasi di Jl. Antasari No.72, Kota Pontianak. Tak butuh waktu lama untuk dikenal dan menarik minat khalayak ramai, dengan kelezatan yang dihadirkan pada setiap menu yang disediakan.

Kombinasi beraneka ragam rempah dengan mie tiaw kenyal dan irisan daging sapi yang dimasak dengan teknik yang baik, menjadikan hidangan Mie Tiaw Antasari memiliki kelezatan yang memikat hati banyak pelanggan. Diawali dengan aroma yang menggugah selera, kemudian diikuti oleh tampilan hidangan yang sangat menggoda. Mie Tiaw Sapi Antasari sudah pasti dapat memberi kepuasan rasa yang dicari oleh para pecinta kuliner.

Selain hidangan juara Mie Tiaw Sapi Goreng, Restoran Mie Tiaw Antasari 72 juga menyediakan banyak variasi jenis hidangan seperti, Mie Tiaw Sapi dengan berbagai cara penyajian dari mulai disiram,kuah, hingga yam. Ada juga pilihan menu lain seperti Bihun Goreng/Kuah/Siram/Yam, Mie Goreng atau kuah. Dan beraneka ragam pilihan topping dari mulai irisan daging sapi, bakso sapi, usus, babat, dll.

Semenjak tahun 2016 Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mulai dilanjutkan oleh generasi ketiga nyonya Agatha yaitu anak? anak dari Alm. Bpk Lukman Sucipto. Baginya, “Culinary is Fun! It is my passion and I absolutely love it”. Terbiasa dengan suasana kitchen sejak kecil membuatnya jatuh cinta dengan dunia masak-memasak. Baginya, hingar bingar dapur dan segala kesibukannya adalah hal yang menyenangkan. Namun motivasi utama datang dari keluarga yang tak lain adalah sang ayah. Beliau pernah berpesan untuk memperkenalkan #KelezatanAsli khas Pontinak kepada pecinta kuliner di luar kota. Hal ini diwujudkan oleh nyonya Agatha dengan membuka cabang di Bekasi.

Sampai saat ini kualitas rasa yang tidak berubah dan pilihan bahan baku premium yang menjadi andalan restoran ini, hingga membuat Mie Tiaw Sapi Antasari 72 mampu bertahan di persaingan bisnis kuliner yang pesat.

Jangan sampai melewati santapan khas Pontianak ini Festival Jajan Bango 2019.

Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon Solo

Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon Solo

Nasi Liwet hidangan istimewa dari Kota Solo, disajikan dengan sayur dan lauk atas daun pisang. Keistimewaannya ada pada rasa nasi yang gurih karena dimasak dengan santan, berpadu dengan sayur labu yang pedas manis. Lauk lengkap mulai dari telur pindang, potongan ayam, jeroan ayam, beraneka gorengan dan baceman dapat dipilih sesuai selera.

Salah satu rekomendasi nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah Jalan Teuku Umar, Keprabon yang buka mulai pukul 16:00 - 2:00 dini hari. Nasi Liwet Wongso Lemu sendiri sudah ada sejak tahun 1954 didirikan oleh Mbah Wongso Sukarto. Awalnya hanya tenda di emperan toko sampai saat ini sudah bisa di kios permanen. Selama lebih dari enam dekade, usaha warung makan ini sudah melampaui tiga generasi. Di kawasan ini bahkan dapat ditemukan lebih dari satu warung Nasi Liwet yang sama.

Di tengah perkembangan kuliner yang beraneka ragam dari dalam dan luar negeri, saat ini generasi ke-4 penerus Nasi liwet wongso lemu Ibu Darsini, ingin terus melestarikan salah satu #KelezatanAsli Kuliner Indonesia asal Solo ini. Persaingan bisnis yang semakin ketat, serta peluang usaha yang masih terbuka lebar menjadi motivasi utama supaya kuliner lokal bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Ada keunikan yang dapat ditemui jika membeli nasi liwet Wongso Lemu, yakni penjual yang masih memakai baju tradisional kebaya dan juga pengamen tradisional yang terdiri dari ibu-ibu dengan make up, sanggul dan juga pakaian kebaya. Sebuah upaya unik untuk melestarikan budaya untuk dinikmati lintas generasi.

Temukan Nasi Liwet Wongso Lemu di Festival Jajanan Bango 2019.

Restoran Mamink Daeng Tata Jakarta

Restoran Mamink Daeng Tata Jakarta

Restoran Mamink Daeng Tata didirikan oleh H. Muhammad Amin Rahim pada tahun 1996, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Restoran yang menyajikan masakan khas Makassar ini mampu dengan cepat dikenal oleh banyak warga Jakarta. Selain karena masakan yang lezat dan otentik, restoran ini juga termasuk salah satu pionir masakan khas Makassar di Ibukota. Tak heran jika penggemarnya sulit berpaling meski kian banyak restoran yang menyajikan menu serupa.

Sajian khas daerah seperti sop konro, coto makassar, hingga es pisang hijau yang segar selalu dinantikan. Tidak cepat puas dengan sambutan yang baik di industri kuliner, sang pemilik tak henti berinovasi. Melalui proses yang panjang, lahirlah Tata Ribs yang kini menjadi primadona. Sebuah sajian unik yang lezat tanpa kehilangan cita rasa tradisional. Tata Ribs atau Konro Bakar adalah olahan iga sapi bakar berukuran jumbo yang pada penyajiannya dilumuri oleh saus kacang serta didampingi oleh kuah kaldu lengkap dengan taburan bawang goreng. Menu hasil dari pemikiran dan bentuk kreativitas yang dilakukan oleh H. Muhammad Amin Rahim juga merupakan bentuk totalitas dan kecintaan terhadap usaha kuliner yang dimilikinya.

Berkembangnya industri kuliner merupakan sebuah tantangan bagi bisnis keluarga ini. Saat ini Restoran Mamink Daeng Tata dikelola generasi penerus H. Muhammad Amin Rahim, yang bernama Putri Daeng Tata Management. Menjawab tuntutan industri yang kian bersaing, manajemen ini memiliki visi untuk membangun restoran yang selalu berinovasi dan berkreasi melalui cita rasa kuliner Nusantara. Menyajikan #KelezatanAsli menjadi tujuan utama agar warisan budaya dapat terus berlangsung lintas generasi. Selain itu juga secara konsisten menjaga kualitas dan pelayanan agar selalu prima.

Potensi yang dimiliki oleh Restoran Mamink Daeng Tata dipandang oleh para penerus layak untuk terus maju dan terus berkembang melalui perubahan konsep manajemen keluarga ke sistem bisnis yang lebih terpadu. Penerapan sistem management mutu, pengelolaan SDM yang lebih advance, serta rebranding image yang lebih relevan dengan perkembangan zaman dan semakin melekatkan Restoran Mamink Daeng Tata ke hati para pelanggannya.

Spesial di Festival Jajanan Bango 2019, Kawan Kuliner bisa mencicipi seporsi jumbo Tata Ribs lengkap dengan kuah kaldunya yang gurih!

Soto Betawi H. Ma’aruf Jakarta

Soto Betawi H. Ma’aruf Jakarta

Bagi Bapak Ma'ruf Said hidup di era kolonial adalah tantangan tersendiri. Sebagai warga Betawi asli, pada zaman itu beliau kerap kali mendapat perlakuan diskriminatif. Tekadnya untuk merubah nasib yang lebih baik sebagai warga asli Batavia pada jaman itu. Bapak H. Ma’ruf memutuskan untuk memulai usaha kuliner soto betawi. Dengan modal resep soto betawi yang diturunkan dari ibunda beliau, bapak H. Ma’ruf mulai melakukan percoban meracik berbagai macam rempah untuk menyempurnakan resep yang dimiliki, hingga akhirnya mampu dipertahankan keasliannya sampai saat ini.

Penggunaan bahan-bahan pilihan tanpa pengawet buatan, menjadikan kualitas rasa yang dimiliki oleh Soto Betawi legendaris ini. Kemampuan untuk menjaga kualitas rasa telah menjadi keunggulan rumah makan ini. Berawal dari gerobak pikul yang dijajakan keliling kota Jakarta hingga akhir tahun 70-an, kegigihan H. Ma’ruf berbuah manis. Perlahan tapi pasti usaha beliau terus berkembang, mulai dari tenda kaki lima, hingga sempat menetap di kawasan Menteng, kini Soto Betawi H. Ma’Ruf bisa ditemui di sekitaran Taman Ismail Marzuki.

Bicara lintas generasi, RM Soto H. Ma’ruf ini sudah dijalani turun temurun hingga saat ini, H Muchlis sudah mempersiapkan puteranya, Mufti Maulana sebagai penerus generasi ke-3. Menurutnya Soto Ma’ruf ini bukan hanya sebuah bisnis saja, melainkan juga menjadi sebagai peninggalan budaya Betawi yang perlu dilestarikan.

Sejarah kesuksesan Soto H Ma'ruf patut menjadi inspirasi bagi mereka yang bergerak di bidang kuliner. Mengulang pesan dari sang ayah, Pak H. Muchlis berkata "Kalau tak bisa berlari maka berjalanlah, kalau tak bisa berjalan maka merangkaklah, kalau anda berhenti, maka anda mati sebelum mati,". Pesan itu menjadi pegangan baginya dalam menjalani usaha warisan ini.

Dalam menjaga kualitas dan #KelezatanAsli, H. Muchlis turun langsung untuk selalu mencicipi masakan agar rasanya pas di lidah pelanggan. Tidak jarang beliau juga menyapa para tamu sekedar menerima masukan dan saran. Sikap ramahnya membekas di hati pelanggan yang tersebar dari berbagai kalangan. Menurutnya, rasa dan pelayanan adalah kunci utama sebuah bisnis kuliner yang sukses.

Rasa Sotonya tak perlu dipertanyakan. Kuahnya terasa gurih di lidah, karena campuran santannya yang pas. Daging dan jeroan yang dipakai sebagai isian soto pun terasa lembut. Membayangkan paduan rasa ketika kuah dan daging disajikan secara bersamaan tentu membuat penasaran. Jangan lupa sate ayam sebagai makanan pelengkap.

Kawan Kuliner dapat mengunjungi Festival Jajanan Bango 2019 untuk mencicipi kuliner lintas generasi ini.

Tahu Telor Cak Kahar Surabaya

Tahu Telor Cak Kahar Surabaya

Bagi masyarakat Jawa Timur terutama Kota Surabaya, tahu telor bukanlah hidangan yang asing. Namun bagi banyak orang sajian sederhana ini bisa jadi istimewa. Aroma dan rasa tahu telor khas Jawa Timur dapat menggugah selera makan siapa saja. Terdiri dari potongan tahu putih yang digoreng dalam balutan telur ayam, kemudian disajikan bersama tauge serta irisan lontong yang disiram saus kacang kental, lengkap dengan taburan bawang goreng dan kerupuk.

Warung Tahu Telor Cak Kahar adalah salah satu rekomendasi yang sulit dilewatkan bagi pecinta kuliner yang ingin merasakan #KelezatanAsli tahu telor. Resepnya telah diwariskan secara turun temurun oleh Alm. Mbah Aminah, sosok yang mengawali usaha kuliner ini pada tahun 1960. Dari racikannya telah lahir tahu telor istimewa yang ada di hati pecinta kuliner tradisional hingga sekarang.

Sebelum sukses seperti saat ini, warung ini sempat dikelola oleh Bpk Abdul Sajad, yang tak lain adalah putra dari Alm. Mbah Aminah. Sejak saat itu sampai tahun 1996, usaha rumah makan keluarga ini tetap konsisten dalam menjaga kualitas rasa. Adapun Cak Kahar yang kemudian dipercaya untuk melanjutkan warung sederhana ini hingga sekarang. Sebagai penerus, Cak Kahar tetap bertekad untuk menjaga eksistensi dan mempertahankan #KelezatanAsli dari sang empunya.

Meski terkenal dengan sajian Tahu Telor, Warung Tahu Telor Cak Kahar juga menyediakan varian pilihan hidangan, diantaranya Tahu Tek Tek dan juga Tahu Campur yang tak kalah lezat. Rasanya tidak salah jika tahun ini Warung Tahu Telor Cak Kahar menjadi salah satu dari 10 Kuliner Lintas Generasi pilihan Festival Jajanan Bango 2019.

Tengkleng  Klewer Bu Edi Solo

Tengkleng Klewer Bu Edi Solo

Kuliner khas Solo yang sangat beragam menjadi tujuan favorit pecinta kuliner. Tidak heran mengapa seringkali disebut surga kuliner di tanah jawa. Salah satu makanan khas yang unik adalah tengkleng. Tengkleng adalah hidangan olahan berbahan dasar kambing dari mulai daging, iga, pipi, mata, kuping, dan jeroan lain. Tidak digunakannya santan pada proses pengolahan tengkleng adalah satu poin pembeda antara tengkleng dan gulai, itulah alasan mengapa tengkleng memiliki kuah yang encer.

Warung Tengkleng Bu Edi adalah salah satu dari sekian banyak tempat makan legendaris di Solo. Lokasi tepatnya ada di antara Masjid Agung dan Pasar Klewer. Warung tengkleng Bu Edi selalu ramai pengunjung sedari buka pada waktu jam makan siang hingga sore hari menjelang tutup.

Usaha tengkleng Klewer ini, awalnya digagas oleh nenek (nama) dari Bu Edi sendiri. Pada tahun 1971. Nenek Bu Edi memulai usaha tengklengnya dengan menggendong sepanci besar berisikan menu tengkleng khas Solo berkeliling Pasar Klewer. Hingga pada tahun 80-an Ibu (nama) beralih sebagai penerus usaha tengkleng yang telah dirintis oleh ibundanya, memutuskan untuk mendirikan tenda sebagai tempat usaha berjualan tengklengnya, yang hingga saat ini masih merupakan lokasi rumah makan ini berdiri. Melestarikan warisan budaya kuliner terutama sajian tradisional khas solo merupakan sebuah kewajiban bagi beliau. Sebagai penerus, hal tersebut menjadi salah satu alasan baginya untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis sejak lama.

#KelezatanAsli tengkleng Bu Edi yang telah memikat banyak hati para pelanggan dari berbagai lapisan masyarakat, dari mulai orang biasa sampai pejabat pemerintahan baik dari daerah solo ataupun pejabat pemerintahan pusat. Kelezatan yang ditawarkan oleh warung tengkleng Bu Edi, tidak terlepas dari pemilihan bahan baku yang dapat menjamin dan menjaga kualitas tengkleng yang resepnya telah diwarisi lintas generasi. Serta teknik memasak tradisional bertabur rempah pilihan yang meresap ke dalam daging dan jeroan, menghasilkan citarasa yang kaya. Keunikan lain yang dimiliki oleh warung tengkleng Bu edi, tidak lain terletak pada cara penyajian yang masih tradisional, yaitu dengan penggunaan pincuk sebagai alas penyajian tengkleng.

Kini untuk menikmati tengkleng Bu Edi tak perlu jauh-jauh ke Pasar Klewer. Kunjungilah Festival Jajanan Bango 2019!

Warung Tongseng Pak Budi

Warung Tongseng Pak Budi

Bagi warga Jakarta, mengobati rasa rindu akan cita rasa sate kambing dan tongseng yang lezat tentu saja bukan hal yang sulit. Cukup datang ke sebuah warung makan sederhana di kawasan Pondok Bambu yang menyajikan masakan khas solo yang otentik. Dimasak secara tradisional, rasa khas nya yang tidak pernah berubah. Resep asli diwariskan turun temurun sejak puluhan tahun tentu bukan racikan sembarangan.

Berawal dari sebuah angkringan kecil dan mimpi besar seorang perantau asal Solo. Pada tahun 1985 Alm H. Senen Riyanto memulai perjuangannya di Jakarta. Bersama istri tercinta, beliau menjajakan tongseng kambing secara keliling di kawasan Menteng tepatnya di Jalan Proklamasi. Tiga tahun berlalu, kelezatan masakan beliau mulai terdengar dari mulut ke mulut. Seiring waktu pelanggan semakin bertambah dan kebutuhan untuk memuaskan hati pecinta tongseng diwujudkan oleh pasangan ini.

Tahun 1988, alm. H. Senen Riyanto dan istri memutuskan untuk menetap dan berjualan dengan tenda kaki lima. Kali ini beliau tak segan mengajak tiga orang pemuda dari kota asalnya untuk turut membantu melayani. Resep rahasia keluarga yang konsisten dan lokasi yang strategis menjadi kunci utama dalam menarik hati warga sekitar. Tidak heran jika angkringan ini memiliki pelanggan yang setia. Mulai dari komunitas elite di Menteng, hingga Keluarga Cendana dan para menteri di kala itu.

Waktu berlalu bersamaan dengan usaha yang semakin menjanjikan. Dengan modal nekat dan dukungan keluarga, di tahun 1992 beliau mengontrak sebuah ruko di Mampang Prapatan selama kurang lebih empat tahun. Tahun 1997 menjadi tahun yang penting, dimana Warung Sate dan Tongseng Pak Budi berdiri. Kali ini modal nyata hasil perjuangannya membuahkan hasil sebuah lokasi permanen di daerah Pondok Bambu yang hingga kini masih berdiri. Motivasi paling ampuh memang berasal dari keluarga tercinta, terbukti dari pemakaian nama “Budi” yang merupakan nama anak sulungnya.

Kisah perjuangan orang tuanya hingga sukses menjadi salah satu alasan dan motivasi bagi Eko Setyabudi untuk melanjutkan usaha rumah makan legendaris ini. Sebagai generasi penerus beliau bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan dan mengembakan usaha ini hingga generasi sesudahnya.

Selanjutnya hanya waktu yang berbicara. Dengan mempertahankan #KelezatanAsli, dan kesederhanaan, terhitung di tahun 2018 Warung Sate dan Tongseng Pak Budi sudah memiliki tiga cabang yang tersebar di Jabodetabek. Kawan Kuliner bisa langsung mencicipi lezatnya tongseng pak Budi di FJB 2019 bulan Maret nanti.

AYO DATANG KE
FESTIVAL JAJANAN BANGO 2019!
AYO DATANG KE FESTIVAL JAJANAN BANGO 2019!
DAFTAR SEKARANG UNTUK
LANGSUNG MASUK TANPA ANTRI
DAFTAR SEKARANG UNTUK LANGSUNG MASUK TANPA ANTRI